Burung Elang Tutul

elang tutul

Elang Tutul – Indonesia mempunyai banyak jenis burung, yang salah satunya termasuk jenis predator udara. yaitu Elang-rawa Tutul atau sering disebut Elang Tutul. Ketika melihat elang yang satu ini, mengingatkan pada salah satu kain batik pemberian nenek di Jogja. Warna bulu yang tutul, lurik menyerupai batik yang sangat indah. Dengan begitu Elang ini tergolong memiliki ciri khas yang berbeda denga jenis elang lainnya. Elang-rawa tutul merupakan Elang yang kebiasaaanya mendiami habitat savana, padang rumput dengan sedikit pohon, lahan pertanian sampai ketinggian 1000 m, secara umum menghindari daerah perairan.

Seringkali terlihat sendirian atau berpasangan, terkadang dalam kelompok kecil sampai 5 individu. Satu-satunya keluarga Elang-rawa yang memiliki kebiasaan bersarang pada pohon yang masih hidup. Elang ini biasa memburu mangsa burung terestrial (gemak, pipit, bondol), tikus, reptil, dan sesekali bangkai hewan.

Deskripsi:

Berukuran sedang (50-61 cm), jangkung dan langsing. Jantan berukuran lebih kecil dibanding betina. Tubuh bagian bawah berwarna abu-abu kebiruan dan merah karat dengan totol-totol putih. Kepala dan muka merah karat bergaris abu-abu, dengan tipe muka mirip dengan burung hantu. Tubuh bagian atas abu-abu. Ekor ber-strip gelap dengan ujung ekor putih. Kaki dan ekor relatif panjang.Iris kuning pucat, sera kuning pucat, kaki hitam.

Baca juga:

 

Penyebaran dan Ras:

Burung penetap di Sulawesi dan Kep. Sula (Maluku), serta burung migran di Sumba dan Timur. Juga dapat ditemui di Australia.

Penyebaran global:

Australia, Sulawesi, Maluku, Sumba, dan Timur.

Kebiasaan:

Mendiami habitat savana, padang rumput dengan sedikit pohon, lahan pertanian sampai ketinggian 1000 m, secara umum menghindari daerah perairan. Seringkali terlihat sendirian atau berpasangan, kadang dalam kelompok kecil sampai 5 individu. Monogami dan memiliki teretori terbang luas. Jantan terbang tinggi mengitari daerah teretorinya, jarang terlihat terbang berpasangan. Bertengger di tempat terbuka. Satu-satunya keluarga Elang-rawa yang memiliki kebiasaan bersarang pada pohon yang masih hidup.

Musim Berkembang Biak:

Pada bulan Juli-Desember, tetapi waktu bersarang dapat terjadi kapan saja tergantung curah hujan dan ketersediaan pakan. Telur 2-4 (biasanya 3) yang dierami 32-34 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang setelah 36-43 hari. Anakan menjadi dewasa dan masuk usia masak kawin setelah 2 tahun. Sarang tersusun atas ranting dan dedaunan pohon, lebar sarang 40-70 cm. Sarang biasanya diletakkan pada pohon yang masih hidup (ciri khas genus circus) 2-15 m di atas permukaan tanah.

Related posts