Burung Kepodang Emas

Burung Kepodang Emas

daftarfaunaindonesia.web.id – Burung Kepodang Emas adalah salah satu burung maskot di Jawa Tengah karena burung yang satu ini memiliki bulu dan kicauan yang cantik. Burung ini bisa di temukan di daratan Sumatera, Jawa ,Bali ,Kalimantan , Sulawesi , dan Nusa Tenggara.

Ciri-ciri Burung Kepodang

Baca juga : Macan Tutul Jawa Khas Jawa Barat

Kepodang emas atau dalam bahasa latin bernama Oriolus chinensis memiliki ciri uatama yaitu bulu berwarna kuning keemasan dengan corak hitam di kepala. Paruh burung ini memanjang dan berwarna putih seperti gading dengan panjang badan mencapai 25 sentimeter dari paruh hingga ekornya.

Menyimpan Mitos Bagi Ibu Hamil

Burung kepodang emas memiliki bulu yang sangat indah, rapi, dan rajin membersihkan diri. Karena itu, muncullah mitos yang mengatakan bahwa ibu hamil yang memakan daging burung ini akan melahirkan anak yang tampan atau cantik nantinya. Mitos ini masih dilakukan sampai sekarang, saat ritual ‘selametan tujuh bulanan’ kehamilan.

Baca juga : Beruang Madu Khas Bengkulu

Burung Kepodang Tiga Kali Berganti Warna Bulu

Burung kepodang yang masih muda memiliki warna yang lebih gelap dan disebut sebagai kepodang batu. Bulu-bulu kepodang batu yang berwarna gelap akan rontok dan berganti menjadi bulu berwarna kuning yang semakin jelas dan terang saat dewasa. Fase ini disebut dengan kepodang kapur, karena warnanya menyerupai kapur.

Perubahan warna burung kepodang masih berlanjut hingga menjadi warna keemasan yang disebut sebagai kepodang emas. Ini muncul setelah burung tersebut berusia 1,5 tahun.

Sebagai Simbol Kejayaan dan Kemakmuran

Kepodang emas sering dipelihara sebagai burung hias yang harganya cukup mahal dan kini jumlahnya sudah langka. Burung ini dipercayai masyarakat Jawa sebagai lambang keselarasan, kekompakan, dan budi pekerti. Warna bulunya yang kuning keemasan selaras dengan simbol kejayaan dan kemakmuran. Ini lah yang membuat burung kepodang emas dulunya banyak dimiliki oleh pembesar-pembesar Jawa.

Suara burung kepodang sangat nyaring dengan kicuannya yang mirip dengan suara seruling atau siulan. Bunyi paruh burung ini terdengar seperti “ckckck” yang cukup keras. Selain itu, dia juga pandai sekali menirukan suara burung lain, seperti menirukan suara burung ciblek dan prenjak.

Related posts