Gajah Sumatera,Hewan Besar Khas Sumatera

gajah sumatera

Hewan Besar Khas Sumatera – Hewan Terbesar yang ada di pulau Sumatera adalah Gajah,Gajah Sumatera merupakan subspesies dari gajah Asia. Kini, gajah adalah jenis hewan yang paling besar yang hidup di alam. Gajah Sumatera bahkan menjadi mamalia dengan ukuran tubuh terbesar di Nusantara. Ciri khas fisik gajah adalah belalai dan gadingnya. Gajah Sumatera jantan memiliki gading yang lebih pendek dikelasnya, sementara Gajah Betina Sumatera lebih unik lagi karena memiliki gading yang sangat pendek. Jika Anda melihat sekilas, akan tampak seolah gading itu bersembunyi di balik bibir atasnya.

Gajah Sumatera atau Elephas maximus sumatranus adalah hewan cerdas yang memiliki ukuran otak lebih besar dibandingkan dengan mamalia lainnya. Hewan raksasa ini membutuhkan asupan 150 kg dedaunan sebagai makanannya dan 180 liter air setiap hari. Sekali minum, Gajah Sumatera bisa menghabiskan 9 liter air dengan menghisapnya melalui belalai. Selain untuk minum, belalai hewan ini juga berfungsi untuk menggamit benda pada bagian ujungnya. Bobot Gajah Sumatera pada umumnya berkisar antara 4 hingga 6 ton dengan tinggi tubuh 1,7 hingga 2,6 meter.

Di Indonesia, Gajah Sumatera juga masuk dalam satwa dilindungi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diatur dalam peraturan pemerintah, yaitu PP 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.Masuknya Gajah Sumatera dalam daftar tersebut disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, serta pembunuhan akibat konflik dan perburuan. Perburuan biasanya hanya diambil gadingnya saja, sedangkan sisa tubuhnya dibiarkan membusuk di lokasi.

Mobilitasnya yang cukup tinggi mengakibatkan Gajah Sumatera dapat hidup dalam tipe habitat yang berbeda-beda, diantaranya seperti Hutan rawa, Hutan rawa gambut, Hutan dataran rendah, dan Hutan hujan pegunungan rendah. Gajah Sumatera menyukai hutan yang ditumbuhi pepohonan yang lebat, selain dapat dijadikan tempat berteduh untuk menstabilkan suhu tubuh saat cuaca panas, juga karena hewan raksasa Sumatera ini membutuhkan suplai makanan hijau untuk menu utama dan juga pelengkap guna memenuhi asupan mineral kalsium untuk pertumbuhan gading, tulang serta gigi. Tidak hanya pepohonan yang lebat, mereka juga akan memilih habitat yang memiliki sumber air. Mereka adalah spesies yang sangat bergantung pada ketersediaan air untuk minum dan berkubang.

Baca juga:

 

Uniknya, gajah menggunakan mulut untuk minum ketika berendam di sungai, namun menggunakan belalai saat minum di daerah rawa dan sungai dangkal. Gajah Sumatera memilih untuk makan saat hujan atau setelah hujan reda agar dapat memenuhi kebutuhan garam mineral dalam tubuhnya seperti kalsium, magnesium, dan kalium. Cara cerdas lainnya yang mereka lakukan adalah dengan menggemburkan tanah tebing atau memakan gumpalan tanah yang mengandung garam. Ekstrimnya, hewan khas pulau Sumatera ini kerap melukai bagian tubuhnya agar dapat menyikat darahnya yang mengandung garam.

Sifat khas lain yang dipunyai hewan ini adalah kecenderungannya untuk hidup berkelompok. Dalam penjelajahannya, kawanan gajah akan mempertahankan kelompoknya dan saling berkomunikasi melalui suara yang bersumber dari getaran pangkal belalainya. Reproduksi gajah betina berfungsi secara matang pada usia 8 hingga 10 tahun, cukup muda apabila dibandingkan dengan masa reproduksi gajah jantan yang matang saat menginjak tahun ke-12 hingga 15. Tahukah Anda bahwa betina endemik Sumatera ini memerlukan waktu 19 hingg 21 bulan dalam masa kehamilan hingga melahirkan dan hanya melahirkan satu ekor saja. Bayi gajah pada umumnya menyusu pada sang induk selama dua tahun dan lahir dengan bobot 90 kg.

Sayangnya, Gajah Sumatera masuk dalam golongan satwa terancam punah (endangered) pada daftar merah spesies terancam oleh Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Banyak hal yang memicu kepunahannya, mulai dari serangan liar dalam hutan, pembebasan lahan untuk area perkebunan dan pembangunan, serta pembantaian yang dilakukan manusia karena menganggap hewan ini sebagai musuh yang terkadang memasuki pemukiman masyarakat akibat hutan habitat mereka yang terus menerus dirambah oleh kepentingan bisnis komersial,Pengembangan industri pulp dan kertas serta industri kelapa sawit sebagai salah satu pemicu hilangnya habitat gajah di Sumatera, mendorong terjadinya konflik manusia-satwa yang semakin hari kian memuncak. Pohon-pohon sawit muda adalah makanan kesukaan gajah dan kerusakan yang ditimbulkan gajah ini dapat menyebabkan terjadinya pembunuhan (umumnya dengan peracunan) dan penangkapan. Ratusan gajah mati atau hilang di seluruh Provinsi Riau sejak tahun 2000 sebagai akibat berbagai penangkapan satwa besar yang sering dianggap ‘hama’ ini.

Semoga saja kesadaran Manusia untuk melindungi satwa liar terus tumbuh ya, jadi keseimbangan Alam juga terjaga,sejatinya hewan dan manusia saling membutuhkan.

Related posts