Kuau Kerdil, Kalimantan

Kuau Kerdil Kalimantan

daftarfaunaindonesia.web.id – Kuau Kerdil, Kalimantan adalah jenis kuau merak yang paling langka dan sudah jarang ditemui. Cirinya adalah ukuran tubuhnya yang maksimal dapat tumbuh sampai 50 cm dengan bintik-bintik pada tubuhnya.

Jenis kuau-kerdil berukuran sedang yang berhabitat di hutan hujan dataran rendah Pulau Kalimantan.

Untuk ukuran burung ini bisa dikatakan sedang, yang jantan dengan ukuran 42 cm dan yang betina dengan ukuran 38 cm. Untuk bagian sayap dan ekor, ada tanda bintik metalik dengan bentuk seperti mata (hijau pada jantan, biru pada burung yang betina).

Burung unik Kuau kerdil jantan memiliki ciri jambul hijau metalik, dada hijau keunguan mengkilap pada bagian tenggorokan dan bercak dada berwarna putih.

Baca juga : Burung Perkutut

Untuk burung betina warnanya lebih suram dan lebih biru. Tapi semua burung kuau kerdil Kalimantan pada bagian pipi dan tenggorokan berwarna kuning pucat, kontras dengan bulu lainnya.

Bagian iris rna berwkuning, paruh kehijauan gelap, kulit muka gundul dan merah, kaki serta tungkai berwarna hitam, untuk burung jantan dengan dua taji.

Kuau kerdil Kalimantan termasuk jenis burung yang pemalu yang sulit dijumpai. Dan hanya diketahui pada tempat-tempat yang terpencar pada hutan dataran rendah hingga pada ketinggian 1100 m.

Berdasarkan warna, suara dan bentuk tubuhnya yang indah , ternyata Kuau Kerdil Kalimantan ini termasuk jenis Kuau Merak yang paling langka.

Dan telah jarang dijumpai oleh masyarakat lokal pada daerah Kalimantan itu sendiri. Bahkan sekarang ini banyak masyarakat Kalimantan Tengah yang tidak tau satwa cantik ini adalah maskot provinsi tersebut. Langkanya fauna ini dikarenakan berbagai macam ancaman baik secara internal atau eksternal.

Hilangnya habitat, degradasi serta fragmentasi lahan, ditambah dengan 25% dari total luas hutan di Kalimantan rusak dikarenakan kebakaran hutan juga kegiatan perburuan mengakibatkan populasi Kuau-Kerdil Kalimantan jadi menurun.

Lalu, kurang optimalnya pengelolaan kawasan konservasi yang termasuk kurangnya pengawasan pada kawasan atau kurangnya sosialisasi serta pemberdayaan pada masyarakat setempat.

Rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan, serta kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kawasan konservasi dan juga tingginya ketergantungan masyarakat pada sekitar kawasan.

Dan konservasi juga termasuk salah satu faktor penyebab yang menjadi ancaman dan gangguan satwa ini. Entah itu di daerah dekat kawasan konservasi atau di dalam kawasan konservasi itu sendiri.

Related posts