Kucing Merah Kalimantan

Kucing Merah Kalimantan

Kucing merah (Pardofelis badia), juga dikenal sebagai kucing Kalimantan, atau kucing merah Kalimantan, adalah kucing liar endemik pulau kalimantan yang sangat jarang ditemukan dibandingkan dengan spesies kucing lainnya yang pernah tercatat.

Pada tahun 2002, IUCN (The International Union for Conservation of Nature) mengklarifikasikan spesies kucing merah ini sebagai hewan yang terancam punah, karena penurunan populasi dan hilangnya habitat.

Antara tahun 1874 hingga 2004, hanya ada 12 spesimen yang bisa dipelajari oleh peneliti.

Kucing merah ukurannya jauh lebih kecil dari kucing emas Asia. Bulunya berwarna cokelat terang, dan lebih pucat di bagian bawah tubuhnya. Ekornya memanjang, lalu meruncing, dan terdapat garis putih di bagian bawahnya, serta ada bercak hitam kecil di bagian atas ujungnya.

Panjang kepala hingga badannya bervariasi, dari 49 – 67 cm, dengan panjang ekor antara 30 sampai 40 cm. Telinga kucing ini bulat, warna bulu pada bagian luarnya berwarna cokelat kehitaman, sedangkan bagian dalamnya berwarna lebih terang.

Mereka mendiami hutan tropis yang lebat, hutan bekas tebangan, dan beberapa tempat yang dekat dengan pantai. Setidaknya tiga spesimen berhasil ditemukan di dekat sungai.

Hampir semua catatan sejarah dan catatan baru-baru ini menunjukkan bahwa kucing merah mungkin berhubungan erat dengan habitat tersebut.

Pada pertengahan 1990an, penampakan kucing ini dilaporkan berasal dari Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, dan Taman Nasional Gunung Palung.

Salah satu penampakan yang belum dikonfirmasi terjadi di Gunung Kinabalu.

Survei perangkap kamera di tahun 2003 sampai 2006, hanya menghasilkan satu foto dari kucing merah.

Hasil yang sama juga didapat oleh survei kamera perangkap dari bulan Juli 2008 sampai Januari 2009.

Menurut catatan yang belum dikonfirmasi dari Sarawak, kucing merah berhasil diamati pada sebuah cabang pohon di dekat sungai, selama ekspedisi berburu malam.

Seorang kolektor hewan lokal di Sarawark, mengaku bahwa dirinya tidak sengaja menjebak dua kucing merah pada kesempatan terpisah di bulan Desember 2003.

Dia melaporkan bahwa kucing merah itu memasuki kandang dan langsung menyerang burung. Satu kucing mati di penangkaran, sedangkan yang lainnya dibebaskan.

Hanya sedikit sekali orang yang pernah melihat salah satu dari kucing langka itu sedang berpatroli di wilayah terdalam hutan Kalimantan. Kalaupun bisa melihatnya secara langsung, orang itu termasuk orang yang sangat beruntung.

Dr.Frank Van Veen, dari Pusat Ekologi dan Konservasi di Universitas Exeter mengatakan : “Jenis hutan tropis tempat penelitian kami, pada umumnya bernilai konservasi yang relatif rendah.”

“Namun, kami telah menemukan bahwa Lansekap (ruang) hutan ini sebenarnya merupakan jenis hutan yang mendukung keragaman satwa liar yang tinggi, termasuk spesies yang terancam punah.”

Sebuah tim peneliti dari Universitas Oxford Brookes, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya Indonesia, dan Universitas Exeter Inggris, telah memotret kucing tersebut saat melakukan survei satwa liar di kalimantan Tengah.

Mereka telah memasang 54 perangkap kamera di 28 lokasi, dan kucing ini berhasil difoto, setelah 28 hari kamera tersebut dipasang.

Tim tersebut belum merilis lokasi sebenarnya di mana kucing itu berada, karena hutan tempat kucing itu direkam tidak dilindungi secara hukum, dan keberadaannya tidak ingin terganggu oleh kehadiran manusia.

Rekaman singkat di bawah ini, memperlihatkan seekor kucing merah sedang berjalan di atas pohon tumbang yang ditangkap oleh satu dari 52 perangkap kamera yang dipasang oleh periset di Kalimantan Tengah.

Hewan ini sangat pemalu, lebih memilih berburu dalam kegelapan dan menghindari kontak dengan manusia.

Co-director Borneo Nature Foudation, Dr Susan Cheyne mengatakan : “Kucing liar bisa menjadi sepesies yang paling sulit dipelajari di alam liar.”

“Mereka tertutup, tersembunyi dan sangat disamarkan. Tapi, pengetahuan dan pemahaman kita tentang kucing liar Borneo yang tersembunyi ini membaik, berkat terknologi seperti perangkap kamera.”

“Masih banyak yang belum kita ketahui tentang hutan Kalimantan. Memerlukan survei lebih lanjut jika kita ingin menyelamatkan spesies yang berada di ambang kepunahan.”

Kucing merah hanya ditemukan di Kalimantan, dan merupakan kucing liar yang paling tidak dikenal didunia.

Saat ini, kucing tersebut terdaftar sebagai hewan terancam punah dalam daftar merah IUCN (The International Union for Conservation of Nature).

Related posts